Harga sebuah Malam Minggu


Hari ini, tepat 5 tahun, sejak aku menikah dengan Felicia Prasetya. Wanita yang hanya baru 6 bulan aku kenal, dari keisengan teman kantorku yang menjebak kami berdua. 30 menit ‘dikurung’ dalam lift kantor yang dibuat seolah-olah rusak, membuat aku dan Felis jadi punya perkenalan pertama yang berkesan. Felis saat itu karyawan baru, Lintang sahabatku langsung tau kalau aku menaruh hati kepada Felis, dan dialah otak percomblangan ini.

Felis adalah wanita ceria, senyumnya kakak beradik dengan senyum Dian Sastrowardoyo. Kacamata minus 1,5, gagang berwarna hitam, rambut belah samping, dan dikucir kuda, serta kulit mulus kuning langsat. Tubuhnya proporsional, berkat latihan fisik rutin di ekstra kurikuler Tae Kwon Do sewaktu SMA. Masih ingat aku saat lintang melempar karet penghapus tepat di jidatku, karena aku yang tidak bergeming memandang perpaduan gingsul dan lesung pipit di kanan pipinya. Dan selama 7 hari juga Lintang harus mendengar cerita bahwa aku memimpikan Felis setiap hari.

Oiya, namaku Jeremy Ryan Angga. Setelah menikah dengan Felis, mau tidak mau, salah satu dari kami harus Resign dari kantor. Aku memutuskan untuk ikut sepupuku, Bisma, dia sudah hampir 3 bulan ini mem-follow up aku untuk bergabung menjadi agen asuransi di perusahaan asal Jerman. Sementara Felis, 1 tahun sejak menikah, akhirnya memutuskan untuk mengikuti passion nya di bidang training dan motivasi.

Disinilah kisah perjuangan kami dimulai, selama 4tahun itu, kami tak pernah merasakan apa yang biasanya di nikmati para pasangan pekerja lain nya, yakni malam minggu. Atau menghabiskan waktu weekend dengan candle light dinner di restoran. Waktu kami tersita untuk pekerjaan kami, harus berpindah dari satu kota ke kota lain, untuk membangun network dan aset kami. Dalam sebulan, bertemu 1-2 kali itu saja sudah sangat beruntung bagi kami berdua.

Namun aku bersyukur, komunikasi yang berjalan sangat baik, sehingga kami bisa melewatinya tanpa harus menghadapi kemelut ataupun salah paham yang memicu pertengkaran. Dalam setiap shalat, walaupun seringkali terpisah, kami mengakhirinya dengan berdoa kepada Tuhan, bahwa ada masanya nanti kami bisa menikmati apa yang sedang kami perjuangkan saat itu. Kami saat ini sedang mendepositkan waktu dan tenaga, agar nanti kami bisa menikmati semua hasil perjuangan ini.

Tiba-tiba, Kecupan hangat mendarat dibibirku, membuyarkan aku dari ingatan masa lalu. Felicia, membawakan aku segelas orange juice, dan mengajakku bersulang.

Hanya kami berdua di pulau ini, pulau yang sengaja kami sewa untuk menghabiskan bulan madu yang seperti tanpa ada akhir. Inilah yang kami perjuangkan selama ini. Kebebasan waktu dan pikiran. Aset kami telah berjalan, kami hanya perlu sesekali menghubungi asisten, sambil terus menikmati liburan kami.

Kami sudah membayar harganya di awal dan sekarang kami menamai setiap malam dengan malam minggu.

#2

#malamMinggu

#15harimenulisdiblog

Advertisements

6 thoughts on “Harga sebuah Malam Minggu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s