Ciuman Pertama (setelah berhasil menaklukan jarak)


030306. Sejarah baru.

enam hari setelah aku putus dengan pacarku, aku sudah dalam kapal cinta yang lain.

bersiap menempuh kisah baru, denganmu. Kamu yang tanpa aku tau, sudah 3 tahun menyimpan sendiri semua gelembung cinta. Bodohnya aku, tak sedikitpun melihat ke arahmu, menangkap gelombang yang kamu pancarkan dari kedua matamu. Hingga sahabatmu, mengatakan semua perihmu selama itu.

160506. Perpisahan pertama.

baru 2 bulan, aku merasa jadi raja (di hatimu), kerajaan kita terhalang jarak antar 2 pulau. Aku tau kamu tak tahan untuk menangis, hingga aku bisa berkaca dari matamu. Sore sebelum hari perpisahan pertama, tanganku tak pernah lepas dari gengamanmu, sangat erat. Hari itu, kita melewati jalan yang agak berbeda seperti biasanya tiap hari kita pulang dari sekolah. Setelah larut dalam canda, senja datang. Perlahan tangan kananku kini bertemu dengan pipimu yang halusnya masih aku ingat sampai hari ini.  Lalu kita mengucap janji, diselingi tetesan air matamu.

050807. Pertemuan Pertama (Setelah berpisah)

Aku tak langsung ke kotaku, tiket yang aku pesan ini menuju ke kotamu, 8 jam perjalanan dari kotaku. Pesawatku mendarat mulus di kota tempat kamu bekerja siang itu. Kamu izin ke kantor untuk bisa menjemputku di bandara. SMS masuk ke handphoneku, kamu bilang sweater abu-abu bergaris putih yang kamu pakai ke kantor hari itu.

CANTIK! Pangling aku saat sebuah senyuman yang aku hafal saat masih di seberang pulau, kini bisa secara langsung aku lihat. Kamu terlihat sangat cantik, setahun tak bertemu, menambah aura kecantikanmu. Bandara sangat ramai, tapi kamu tak peduli, tanganku langsung kamu cium dengan bibirmu yang aku tau sudah berlapis lip gloss, lanjut kamu tempelkan di pipimu, seperti saat terakhir kita bertemu, dan akhirnya memelukku dengan hangat tubuhmu.

Tangan kananku kamu gandeng, aku sampai salah tingkah, mengingat dulu kita belum pernah semesra ini. Maklum, masih dengan seragam putih — abu-abu belum pantas rasanya, apalagi dengan budaya di kota kita. Taksi berhenti tepat di depan kita, mengantar kita ke sebuah hotel tempat aku beristirahat sejenak. Supir Taksi menyunggingkan senyum, saat melihat tanganmu tak lepas dari tanganku. Hingga, kita sampai di sebuah hotel yang sudah kamu pesan. Dengan diantar bellboy yang membawakan koper dan tasku, kamu mengantarku ke salah satu kamar di lantai 2.

Kamu harus kembali ke kantor, namun sebelum pergi, kita sempat saling memandang dalam jarak yang sangat dekat. Jantungku mendadak memompakan darah terlalu bersemangat. Hingga, akhirnya handphone mu berbunyi dan mengagetkan kita. Yang aku tau, selama kita berpisah, kamu sangat mengingikan sesuatu, bibir ini. Sudah berkali kali dalam telfon kamu menginginkan momen tadi, namun ternyata tidak seperti yang kita bayangkan.

060807. Hari Pembalasan Rindu

Dering telfon membangunkan aku dari tidur nyenyak dalam bedcover di kamar hotel. Hari sabtu, dan kamu hari ini pulang cepat, pukul 12 kamu menjemput aku di hotel, aku bersiap untuk bertemu.

Hari ini semua tak direncanakan, kita berjalan seperti sepasang merpati yang bahagia. Pilihan pertama untuk melepas rindu adalah menonton film di bioksop. Fantastic four: Rise of the Silver Surfer, itu pilihanmu, kita berdua sama-sama suka film Hollywood.

Disinilah semua berawal, kamu duduk disebelah kiri, memegang sekotak popcorn yang belum kita makan sedari tadi.

Aku tak bisa ingat jalur cerita filmnya seperti apa, karena saat itu ibu jari kita saling berbicara dalam bahasanya sendiri, jari-jari kita bertaut, sementara ibu jari kita melindungi. Kita seperti berbicara dengan telepati, menunggu momen yang tepat untuk saling memandang untuk waktu yang cukup lama. Rambutmu wangi, aku sempat melontarkan pujian itu, yang membuat kamu tersenyum. Lalu untuk pertama kali nya nafasmu yang hangat begitu menggairahkan, hanya tinggal beberapa cm dari hidungku. Aku tak sedikitpun peduli pasangan dibelakangku yang sedari tadi sudah ribut sendiri.

Bibirmu mendarat di bibirku, untuk beberapa detik, aku tak bernafas, tanpa sengaja aku lepaskan feromon yang membuat kamu mulai memainkan lidahmu saat bertemu dengan lidahku, aku lupa entah berapa lama kita berciuman penuh cinta(atau nafsu). Yang aku rasakan basah, dan suaramu yang mendesah. Mulai saat itu, aku merasa sudah memilikimu. Seutuhnya.

Ciuman pertama berlanjut ke ciuman berikutnya, lebih lama, lebih basah, lebih meledak-ledak, dan hanya berhenti sampai di leher. 🙂

aku mengambil cangkir cokelat hangatku, lalu menutup kotak tempat aku menyimpan ingatan tentang kamu, pemilik ciuman pertamaku. Masih kuingat semua, walau samar-samar.

#1

#ciumanpertama

#15harimenulisdiblog

Advertisements

5 thoughts on “Ciuman Pertama (setelah berhasil menaklukan jarak)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s